Kegiatan ini bukan sekadar tugas seni, melainkan bentuk kampanye lingkungan hidup yang dilakukan oleh setiap kelas. Dengan kreativitas tinggi, para siswa mengubah bahan-bahan daur ulang menjadi miniatur simulasi bencana yang terlihat nyata.
Ragam Tema dan Edukasi Bencana
Setiap kelas ditantang untuk mengangkat tema bencana alam yang berbeda-beda. Suasana ruang presentasi dipenuhi dengan berbagai representasi kondisi geografis Indonesia:
Tema Banjir: Menampilkan visualisasi penumpukan sampah di aliran sungai dan dampaknya terhadap pemukiman.
Tema Tanah Longsor: Menggambarkan bahaya penggundulan hutan di area perbukitan.
Tema Tsunami: Menjelaskan mekanisme gelombang laut dan pentingnya mitigasi di area pesisir.
Setiap kelompok tidak hanya memamerkan estetika, tetapi juga diwajibkan mempresentasikan proses terjadinya bencana tersebut serta cara-cara pencegahan yang bisa dilakukan oleh manusia.
Kelas 8C Raih Predikat Terbaik
Setelah melalui proses penilaian yang ketat dari dewan juri, kelas 8C berhasil keluar sebagai pemenang diorama terbaik. Mengusung tema Kebakaran Hutan, karya mereka dinilai paling unggul baik dari segi detail artistik maupun kedalaman materi presentasi.
Diorama kelas 8C berhasil menggambarkan kontras antara hutan yang asri dengan area yang hangus terbakar, lengkap dengan edukasi mengenai dampak asap terhadap kesehatan dan hilangnya habitat flora serta fauna.
Menanamkan Kepedulian Sejak Dini
Kepala SMP Edu Global menyampaikan bahwa pemilihan tema diorama dalam Hari Bumi tahun ini bertujuan untuk memberikan pemahaman visual kepada siswa mengenai kerapuhan ekosistem kita.
"Melalui diorama ini, siswa belajar bahwa setiap tindakan manusia memiliki dampak langsung terhadap bumi. Kami ingin mereka menjadi generasi yang tanggap bencana dan peduli terhadap pelestarian alam," tuturnya.
Dengan semangat Hari Bumi 2026, diharapkan kegiatan ini mampu memicu kesadaran jangka panjang bagi seluruh warga sekolah untuk terus menjaga bumi tetap hijau dan layak huni bagi masa depan.
.png)


